Kamis, 13 Oktober 2011

Kesadaran Diri membangun Jati Diri dengan Mengelola Emosi

     Kesadaran diri merupakan persepsi yang gamblang tentang kepribadian kita, termasuk membangun jati diri melalui pengelolaan kekuatan, kelemahan, pikiran, keyakinan, motivasi dan emosi.
Kesadaran diri juga bisa diartikan sebagai langkah awal anda dalam menciptakan apa yang kita inginkan dan apa yang tidak, kita memfokuskan perhatian, emosi, reaksi, kepribadian, dan perilaku untuk menentukan mau kemana kita sebenarnya. Emosi merupakan suatu reaksi mental dan psikologis yang muncul secara spontan ketika seseorang berhadapan dengan suatu kondisi.
      Lebih lanjut, terdapat empat jenis emosi dasar, yaitu senamg, sedih, marah, dan takut. Keempat emosi tersebut berkembang menjadi berbagai emosi seperti cemas, malu dan jijik. Emosi sebenarnya tidak memiliki muatan "benar" atau "salah" karena ini merupakan reaksi manusiawi dalam menghadapi sesuatu hal. Perilaku yang mengikuti emosilah yang bisa dinilai benar atau salah.
     Yang perlu diperhatikan tidak hanya emosi negatif seperti takut, marah atau sedih yang bisa membuat kita menunjukkan perilaku yang salah, emosi positif seperti bahagia juga dapat merugikan jika kita tidak bisa memahami cara mengaturnya menjadi perilaku yang sesuai.
     Pakar psikologi yang menekuni permaslahan emosi John D Mayer, menyatakan umumnya ada tiga gaya yang tampil ketika seseorang menghadapi emosi yaitu ;

1. Terbebani (Engulfed)
       
       Orang dengan tipe ini tenggelam dalam emosi - emosinya dan tidak mampu keluar dari situasi ini karena tidak memahami emosinya sehingga mudah larut terbawa emosi, yang berakibat banyak yang tidak berusaha keluar dari kondisi emosi tertentu dan akhirnya tidaak mampu mengontrol perilaku emosionalnya. Contoh yang bisa kita temui dalam kehidupan sehari - hari adalah orang yang memaki - maki pengendara lain pada saat lalu lintas macet, orang tersebut tidak meluangkan waktunya lebih banyak untuk menyadari emosi sedih atau marah yang ia rasakan, karena begitu meraskan emosi tertentu tanpa pikir panjang mereka langsung bereaksi sesuai dengan dorongan emosi tersebut.

2. Menerima (Accepting)

    Orang dengan tipe ini sebenarnya menyadari emosi apa yang mereka rasakan, namun cenderung menerima begitu saja emosi yang sedang terjadi dan tidak mencoba memahami emosi tersebut lebih jauh, yang pada akhirnya mereka tidak berusaha beradaptasi dengan emosi yang muncul, contohnya sedih yang dibiarkan berkepanjangan sehingga bisa menimbulkan perasaan tertekan (depresi).

3. Sadar Diri (Self Aware)

      Orang dengan tipe ini menyadari dan memahami emosi yang terjadi pada dirinya, serta mengetahui batas - batas norma yang perlu dijaga dan berpikir mengelola emosi yang dirasakan agar perilakunya masih berada dalam ambang batas kewajaran.

Dengan menyadari alasan munculnya suatu emosi berarti kita telah mendorong otak untuk berpikir tentang tingkat kepentingan sumber masalah, hal tersebut dapat dibangun dengan mengaktifkan bagian otak kanan yang disebut neokorteks. Artinya untuk meningkatkan kesadaran diri, kita perlu membahasakan, mengidentifikasi,dan menamai emosi yang kita rasakan, adapun cara yang bisa dilakukan adalah :

1. I Messages (Pesan "saya...")

    Menuliskan atau menyatakan perasaan dengan menggunakan pesan yang diawali dengan "Saya....", contohnya : "Saya merasa perilaku anda sama sekali tidak menghargai kerja keras saya". I messages menyadarkan kita bahwa kendali dari permasalahan yang terjadi ada ditangan kita, karena kita yang merasakan, menyatakan dan pemilik kendali untuk mengubah keadaan.

2. Berbagai Cara

    Menggunakan berbagai metode untuk melukiskan dan mendeskripsikan perasaan, seperti warna, skala, analogi.
   
     Selain emosi, jika kita ingin mengembangkan kesadaran diri sendiri yang paling utama kita lakukan adalah memotivasi diri sendiri, karena itu merupakan energi yang selalu dijaga dan dirawat secara bijak melalui kesadaran diri tertinggi maupun melalui manajemen diri yang tangguh, dan jika hal itu tidak dijaga dengan baik maka akan meredup dan menghilang dalam keragu - raguan dan ketidakpastian. (Tulisan ini dikutip dari Koran Jakarta).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar